Tuesday, October 13, 2009

Sharing tentang Telkomsel di pagi hari

Sandjaja Kosasih

Dirut Telkomsel digugat gara-gara penurunan bandwith? ono-ono wae...

Anton Rahmadi
beritanya dah dari kemarin2 kali Pak? Problem intinya kan Telkomsel dianggap melanggar kontrak dengan para konsumen lama sekaligus tidak mampu menyediakan QoS yang baik.

Sandjaja Kosasih
baru lihat beritanya di posting milis asosiasi-warnet dan indoWLI, yg posting merasa gak ada pengurangan bandwith krn sistem di Tsel belum mampu membatasi bandwith setelah pelanggan melewati quota tertentu. Sepertinya gitu juga sih yg kurasakan, speed dah kenceng lagi sekarang setelah mengalami banyak error menjelang dan setelah Lebaran.

Anton Rahmadi
Eniwei, saya juga teriak Pak waktu b/w bermasalah.. :D
Masih ada problem di 'fair usage' yg semena2 diturunkan. Sebagai gambaran, 240rb di Aussie dapat quota 2+1 gb. Mereka cuma punya satu sistem: volume based.
Technically, b/w limiter Tsel saya gak tahu, tapi jelas berbasis software karenanya bisa ditembus asal tahu caranya. Misal: DNS caching, dsb.
Speed dah kenceng lagi karena banyak pelanggan pindah kelain hati, pak.
Kasusnya sama, dulu Broom byk diminati karena murah, cepat. Semua lari kesana. Begitu Tsel murah, reasonable, cepat, jangkauan luas, pelanggan balik serbu Tsel.... Read more
Pasarnya volatil Pak. Apalagi pengguna kita 11x lipat pengguna Aussie. Kebayang ribetnya (secara teknis).
Sarannya sih memang desentralisasi bandwidth. Tiap pulau punya jalur sendiri selain ring backbone.
Nantilah kita kasih proposal solusinya ke Tsel.

Sandjaja Kosasih
Giliran pelanggan nakal gak ada yg gugat ya :)

Anton RahmadiHarusnya bisa. Anomali mudah terlacak dengan algoritma khusus. let see, pemakaian bulanan berdasarkan ccid, bisa di trackback ke 3bln trend, 2bln trend, 2mg trend, dsb.
Wong di PON aja bisa ketahuan realtime kok. Segitu terpencarnya lokasi, banyaknya screen dan koneksi.

Sandjaja Kosasih
Teknis bisa, tapi siapa yg gugat? Kan pelanggan nakal ini justru lebih merugikan pelanggan normal yg merupakan mayoritas.

Anton RahmadiSecara damai, dipanggil aja Pak.
Diminta resign jadi pelanggan. Beres bukan? Toxic customers memang ada. Disini peranan dispute management, sesuatu yg sangat langka di negara kita.

Sandjaja Kosasih
Nggak maksud saya bukan providernya yg gugat. Buang2 waktu dan duit aja gugat pelanggan, itu loh yg gugat Telkomsel kok gak gugat pelanggan yg merugikan pelanggan lainnya, tinggal minta ke provider kan datanya? Daripada gugat Telkomsel kan malah merugikan semuanya.

Anton Rahmadi
Kalau saya berpendapat, Tsel memang perlu digugat.
Sebabnya Tsel menurunkan 'fair usage' sepihak tanpa persetujuan existing customers.
Kedua, Tsel tidak mampu melayani pelanggan dengan QoS yang layak.
Masalah yang digugat adalah policy Tsel akibat salah intrepetasi survey pelanggan.
Contoh: Tsel menganggap kuota rata2 pelanggan adalah 500mb/pelanggan. Asumsinya apa? Pada QoS b/w berapa? Kalau pada 5 kBps, tentu sangat dimaklum, tapi pada 32 kBps, rasanya tak mungkin.... Read more

Kalau toxic customers, itu masalah berbeda. technical glitches semacam ini, cuman escape aja. Admin2 mereka lebih capable untuk menghandle anomali, dibanding marketingnya.
Saya pernah lihat banyak yang tunneling via Tsel dan limiternya, counternya gak jalan. Something very wrong with the limiter.


Sandjaja Kosasih
:) kita berada di sisi yg berbeda.

Saya adalah pelanggan yg di sisi lain juga punya pelanggan.
Jadi kengototan pelanggan yg merasa dirugikan adalah biasa. Biasanya pelanggan yg ngotot adalah pelanggan yg mestinya beli bandwith lebih tapi tidak melakukannya dan kemudian merengek ketika celah2 untuk mengambil lebih diperketat.
QoS yg hancur juga dikarenakan abuse dari pelanggan yg lain, makanya saya bilang kenapa tidak menggugat pelanggan yg berperilaku buruk seperti itu?

Anton Rahmadi
QoS yang hancur karena analisis jaringannya tidak akurat, dangkal.
Harusnya Tsel bisa menganalisis masalah ini lebih dalam, tapi rata2 gak mau dikritik, menganggap sistem sudah sempurna.
Pelanggan abusive memanfaatkan celah tersebut.
Pelanggan normal kayak saya yang ketiban pulung.
Jumlah pelanggan normal kayak saya jauh lebih banyak ketimbang yang berprilaku abusive.... Read more

Contoh perbaikan:
Pembedaan pipa frekuensi utk halo/flash bulanan dengan simpati/flash harian.
Tracking ccid yang melakukan tunneling, cross cek dengan trend mingguan/bulanannya. Cek trend onlinenya.
Tracking ccid yang menggunakan torrent, p2p.
Buat surat pemanggilan untuk mereka.

Untuk sistem QoS, ah lebih baik liat sistem dan trendnya dulu, baru dikasi saran :D
Semoga lewat pak San, sharing ini bisa disampaikan.

Sandjaja Kosasih
Mengulang yg di atas, buang waktu dan dana untuk mengurus pelanggan seperti itu. Lebih baik mengurus pelanggan lainnya.

Analisa yg akurat? Tidak ada satupun model analisa yg bisa dipakai untuk menilai perilaku ber-internet orang Indonesia.

Saya pakai 2 HALO dan 1 simPATI untuk Flash. Jalurnya beda kok. Meski sebagian orang Tsel (marketing) berasumsi semua sama jalurnya. Ketika HALO ngadat dipakai utk Flash, simPATI masih lancar pada saat2 problem di seputarn Lebaran tempo hari.... Read more

Rasanya sih di teknis Tsel sudah all out, makanya saya kalau mau protes mengamati dulu sekarang. Awalnya sih gak pake pengamatan langsung nanya.

Di Indonesia ini operator mana sih yg sering digugat? Ya Tsel. Aturan paling ketat utk para kontraktronya ya Tsel. Yg nembus sampai ke pedalaman ya Tsel.

Ibaratnya sudah repot ngurus segala sesuatu sampai yang sifatnya sosial masih repot menangkis gugatan.

Anton Rahmadi
Ya itu dia.
Studi modelling pengguna internet sudah saatnya diangkat sebagai sebuah topik disertasi. Ini studi soal prilaku pelanggan juga bukan?
10% effort cukup menangani yang 90%,
90% effort diperlukan untuk sempurna.
Jadi mulailah kita traceback para abusers itu. Kebiasaan kita yang terlalu permisif lebih dari negara liberal sekalipun. Asal sudah bayar, bebas apa saja... huh, capeknya.

Sandjaja Kosasih
Loh baru tahu kalau Indonesia lebih liberal dibanding negara liberal (AS sekalipun) :)

Tsel paling sering digugat karena mungkin paling "merah putih" ya?

Anton Rahmadi
Tsel digugat karena dia yang diharapkan paling bagus diantara yang lainnya :D

Kata Anthony Dio Martin, ada "emotional unmeet" antara provider dan pelanggan. Disini letak dispute utamanya.

64 kbps after 512MB fair usage is not bad kalau benar2 segitu. Itukan sama dengan misalnya sekitar 7 kBps download + 1 kBps upload (asynchronous).
Tapi 64 kbps dengan embel2 3g up to 256 kbps itu yang menimbulkan harapan berlebihan. Walaupun, toh, hasil test saya di bulan Juni bisa peak ke 440an kbps.

Intinya, kalau janji upto 256 kbps, pelanggan ya harus dapat segitu atau kurang lebih segitu. Kalau janjinya 64 kbps, ya harus segitu pula angkanya.

Wednesday, July 1, 2009

Firefox 3.5 for Ubuntu, Windows, Mac

Berita bagus, telah rilis firefox 3.5 yang diklaim lebih cepat dari firefox generasi sebelumnya. Berikut first time use reportnya:

1. Firefox 3.5 yang saya coba di mesin Windows XP memang memanfaatkan cache secara lebih maksimal dan koneksi yang dilakukan juga lebih agresif. Untuk speed download sepertinya sama saja. Performa berarti didapatkan oleh user Windows XP, kalau versi Linux (Ubuntu), memang sudah cepat dari 'sono'-nya sejak versi 3.0.x

2. Fitur private browsingnya lumayan bagus, walaupun seharusnya fitur ini bisa berjalan bersamaan dengan non-private browsing. Hanya satu mode yang bisa diaktifkan dalam satu sesi browsing.

3. Open format video dan sound player yang terintegrasi. Bermanfaat sih, tapi dengan banyaknya situs yang masih memanfaatkan closed source (FLV, AVI, MOV), kayaknya fitur ini belum perlu-perlu amat.

4. Oh ya, kalau mau download versi "Ubuntu 9.04" maka baru didapatkan FF 3.5 beta 4. Perintahnya:

sudo apt-get update
sudo apt-get install firefox-3.5

Cara menjalankannya manual dari console, atau via shortcut sendiri. Agak membingungkan, karena yang muncul bukan tag Firefox 3.5 melainkan Shiretoko (End of the Earth, Ainu language, juga merupakan sebuah National Park di Hokkaido).

5. Kalau mau update manual, silakan ke download pagenya saja. Ukuran file sekitar 7.7 MB untuk Windows dan 9.3 untuk Linux. Yang versi Windows, kompatible dengan Adblock, Noscript, dan beberapa ekstensi/add-in dari FF 3.0, tapi yang versi Linux (kompilasi Ubuntu 9.04, atau FF 3.5 beta 4) belum kompatibel.

Friday, June 26, 2009

Instalasi Emphaty pengganti Pidgin

Banyak rumor mengatakan pidgin akan digantikan dengan Emphaty sebagai default IM di Ubuntuk Karmic Koala. Cara instalasinya sangat mudah, tinggal menggunakan perintah ini:
sudo apt-get install empathy
Jumlah paket yang di download cukup banyak, tetapi ukurannya imut-imut semua. Total besar file yang diunduh hanya 3.6 MB. Hanya menunggu sekitar 2 menit menggunakan koneksi HSDPA Telkomsel (average speed ke mirror.unmul.ac.id adalah 33 KBps atau 264 Kbps)


Sekilas, tidak tampak perbedaan antara pidgin dengan empathy. Resource yang digunakan juga relatif sama.

Thursday, June 25, 2009

Seminggu ini Pidgin Nggak Konek

Setelah browse sana sini, ternyata Yahoo mengupgrade sistem log-in YM-nya. Sistem ini belum di support oleh Pidgin 2.5.x dan baru dirilis patchnya untuk pidgin 2.5.7 ke atas. Ubuntu belum melakukan patch terhadap pidginnya, sehingga langkah paling rasional adalam mencari server-server yang belum di patch(Sumber).


Menurut berita tersebut ada dua opsi: (1) menunggu upgrade pidgin di Ubuntu, sementara menggunakan webmessenger.yahoo.com (2) memindahkan server dari scs.msg.yahoo.com ke nama lain:


cs101.msg.mud.yahoo.com
cn.scs.msg.yahoo.com

atau IP-IP berikut:
  • 76.13.15.36
  • 76.13.15.37
  • 68.180.217.6
  • 68.180.217.7
  • 68.180.217.8
  • 68.180.217.9
  • 68.180.217.10
  • 68.180.217.11
  • 68.180.217.12
  • 68.180.217.13
  • 68.180.217.14
  • 76.13.15.29
  • 76.13.15.30
  • 76.13.15.31
  • 76.13.15.32
  • 76.13.15.33
  • 76.13.15.34
  • 76.13.15.35
Catatannya, solusi kedua ini pun bersifat sementara. Karena, saat server-server di atas melakukan update otentikasi YM, dipastikan pidgin di Ubuntu tidak bisa terkoneksi.

Langkah lain adalah menginstalasi pidgin yang baru dari websitenya. Eniwei, desas-sesusnya pidgin akan digantikan paket lain (Empathy) pada versi terbaru Ubuntu (9.10, Karmic Koala).

Update: 25 Juni
Pidgin di Ubuntu sudah diupdate, jadi silakan lakukan proses upgrade

sudo apt-get update
sudo apt-get upgrade pidgin pidgin-data

Have a nice patchy day!

Wednesday, June 3, 2009

Monitoring koneksi Modem USB dengan MRTG

Kadang-kadang kita kesal dengan sebuah ISP terhadap performa data yang disediakannya. Tapi, kita juga butuh bukti untuk mengklaim hal tersebut. MRTG, sebagaimana yang banyak digunakan di kalangan warnet maupun jaringan besar sangat bermanfaat untuk hal ini.

Berikut adalah teknik instalasi MRTG dengan Ubuntu untuk kepentingan pribadi, utamanya mendapatkan hasil (grafik) kinerja koneksi modem USB kita.

Buat direktori /var/www/mrtg

mkdir /var/www/mrtg

Instalasikan MRTG dan webserver
apt-get install lighttpd php5-cgi php5-gd mrtg snmpd snmp
Mengubah konfigurasi /etc/snmp/snmpd.conf
Dari
# sec.name source community
com2sec paranoid default public
#com2sec readonly default public
#com2sec readwrite default private
Menjadi
# sec.name source community
#com2sec paranoid default public
com2sec readonly default public
#com2sec readwrite default private
Lalu ubah lokasi dan kontak
syslocation Unknown (config /etc/snmp/snmp.local.conf)
syscontact root@localhost (config /etc/snmp/snmp.local.conf)
Menjadi
syslocation {komputer_anda} {lokasi_anda}
syscontact {nama_anda} {no_telp}
Buat konfigurasi awal /etc/mrtg.cfg

# Global configuration
RunAsDaemon: yes
EnableIPv6: no
WorkDir: /var/www/mrtg
Options[_]: bits,growright
WriteExpires: Yes
Title[^]: Traffic Analysis for {nama_komputer}
Menjalankan mrtg, indexmaker, dan cfgmaker
Kopikan baris-baris berikut sebagai netmon.sh
#!/bin/bash
#-- A simple command generator for Telkomsel Flash monitoring
#-- Anton Rahmadi @3 June 2009 v 0.1
MRTGDIR="/var/www/mrtg"

echo "Processing:"

echo "1. SNMP Restart"
/etc/init.d/snmpd restart
killall mrtg

echo "2. Probing IP"
ifconfig usb0
echo "3. Copying default MRTG configuration."
cp /etc/mrtg.cfg.default /etc/mrtg.cfg

echo "4. Auto-configuring MRTG based on SNMP reading."
cfgmaker public@localhost >> /etc/mrtg.cfg

echo "5. Cron Restart"
/etc/init.d/cron restart

echo "6. Reinisiating index.html"
cp -f $MRTGDIR/localhost_usb0-day.png $MRTGDIR/log/$(date +%d%b%y%R).png
rm -f $MRTGDIR/*html*
indexmaker /etc/mrtg.cfg > $MRTGDIR/index.html

echo "Its done! Please go through http://localhost/mrtg"
Membuat folder penyimpan statistik setiap koneksi
mkdir /var/www/mrtg/log

Ubah permisi script diatas agar dapat dijalankan

chmod 755 netmon.sh

Jalankan netmon.sh sebagai root
sudo su
netmon.sh
Contoh hasil di http://localhost/mrtg


Saturday, May 23, 2009

Release Party Jaunty Jackalope


Acara ini diadakan di STMIK Widya Cipta Darma, Jalan M Yamin, Samarinda pada hari Minggu 24 Mei 2009.

Jumlah peserta diperkirakan mencapai sekitar 70 orang dan menampilkan sedikitnya 4 orang pembicara. Acara dimulai dari teknik instalasi J-J pada notebook, lalu menambahkan repositori DVD, membuat vector-banner menggunakan InkScape.

Dalam acara ini, dicoba pula koneksi Ubuntu menggunakan Handphone/GSM modem.

A night with Jaunty Jackalope

What's that? Kinda unfamiliar name. It is not a brand for candy, but a newest Ubuntu (the most famous Linux distro). The name does not give any hint nor strength to be a good marketing jargon. Anyway, the name represents the tradition of Ubuntu's natural intimate. Look at these predesessors, gutsy gibbon, hardy haron, intrepid ibex. You may look at the resemblance, yes G-G, H-H, I-I, and now J-J.

Anyhow, once more, name doesn't represent its capability, which I can say, another pinnacle O/S made by Ubuntu. Starting with around 20s to login screen (fresh, default install on my lapie: Toshiba Core Duo 1.73Mhz with 3Gigs RAM), the first impression, impressive! This is way beyond expectation, a descent, stable looking, and fast O/S with EXT4 partition type enabled (acclaimed to boost performance of some percents compared to the previous EXT3).

Since the release of Ubuntu 7.04 (Feisty Fawn), there was practically no successor can match its performance until J-J. Well, here are the sums of my experience after one night dating with this new Ubuntu release:

1. Installer seems faster than the most awaiting Windows 7, except for slow partition detection which I think can be improved.

2. No driver needed, all devices detected smoothly! I got areport of new installation on a descent (2008 edition) of Dell with the newest Centrino chipsets (not like mine!), everything is alright. From ethernet, bluetooth, CPU scaling, wireless, and you can name others! However, on a system of Acer AMD Turion 64, some configurations need to be hacked (like Atheros wifi, sound - altough it was working but in sub par performance compared to that in Windows system). Regardless the small glitches in AMD system, the sound in my lapie does impressive. The TruSurround capability of Realtek chipset seems working well.

An update: They (the Canonical) need to fix a problem in FLV codec as it will trigger the sound server (Pulse Audio) to an error state. Another problem is with the OSS sound driver, which refuses to work.

3. EXT4! It runs perfectly in my lapie (I consider myself as a power user, with many tweakings to satisfy my needs in computing).

4. Faster booting, better memory management. It took less than 200MBs of RAM when the desktop firstly appeared on screen (I use 19" wide/1440x900 resolution monitor with the same size of wallpaper, Mac4Lin RC1 theme, and Avant Windows Navigator along with Compiz) The previous release took slightly more than 250 MBs on almost the same setting. Booting (as recorded with bootchart) gave 20.4s prior to GUI login screen appeared.



It looks cleaner than the Ibex. However, it still has the same problem with multimedia. You can't play MP3, SWF (shockwave), FLV (streaming flash) on the first moment. To install gstreamer-plugin (now it under a name of gstreamer-plugin-bad), setting up medibuntu.org repostory and adding up a few codecs are the requirements to play multimedia seamlessly. This is inconvinient for first time user! Gave a bad impression at the first sight (regardless of Legal issue that is always be a reason).

I give a huge credit to Gnome (My buddy says KDE is eye candy!). Gedit runs beautifully, in a matter of eye's blink. I also thanks to Sun (or Oracle) for its Open Office 3.0 which I think faster, better, but also slightly less heavy (in my opinion!).

So, with current configuration (EXT4, the latest kernel patch [2.6.28-12], and many customized settings) I found a fresh moment to play with Linux again.