Anton Rahmadi
QoS yang hancur karena analisis jaringannya tidak akurat, dangkal.
Harusnya Tsel bisa menganalisis masalah ini lebih dalam, tapi rata2 gak mau dikritik, menganggap sistem sudah sempurna.
Pelanggan abusive memanfaatkan celah tersebut.
Pelanggan normal kayak saya yang ketiban pulung.
Jumlah pelanggan normal kayak saya jauh lebih banyak ketimbang yang berprilaku abusive.... Read more
Contoh perbaikan:
Pembedaan pipa frekuensi utk halo/flash bulanan dengan simpati/flash harian.
Tracking ccid yang melakukan tunneling, cross cek dengan trend mingguan/bulanannya. Cek trend onlinenya.
Tracking ccid yang menggunakan torrent, p2p.
Buat surat pemanggilan untuk mereka.
Untuk sistem QoS, ah lebih baik liat sistem dan trendnya dulu, baru dikasi saran :D
Semoga lewat pak San, sharing ini bisa disampaikan.
64 kbps after 512MB fair usage is not bad kalau benar2 segitu. Itukan sama dengan misalnya sekitar 7 kBps download + 1 kBps upload (asynchronous).
Tapi 64 kbps dengan embel2 3g up to 256 kbps itu yang menimbulkan harapan berlebihan. Walaupun, toh, hasil test saya di bulan Juni bisa peak ke 440an kbps.
Intinya, kalau janji upto 256 kbps, pelanggan ya harus dapat segitu atau kurang lebih segitu. Kalau janjinya 64 kbps, ya harus segitu pula angkanya.
Harusnya Tsel bisa menganalisis masalah ini lebih dalam, tapi rata2 gak mau dikritik, menganggap sistem sudah sempurna.
Pelanggan abusive memanfaatkan celah tersebut.
Pelanggan normal kayak saya yang ketiban pulung.
Jumlah pelanggan normal kayak saya jauh lebih banyak ketimbang yang berprilaku abusive.... Read more
Contoh perbaikan:
Pembedaan pipa frekuensi utk halo/flash bulanan dengan simpati/flash harian.
Tracking ccid yang melakukan tunneling, cross cek dengan trend mingguan/bulanannya. Cek trend onlinenya.
Tracking ccid yang menggunakan torrent, p2p.
Buat surat pemanggilan untuk mereka.
Untuk sistem QoS, ah lebih baik liat sistem dan trendnya dulu, baru dikasi saran :D
Semoga lewat pak San, sharing ini bisa disampaikan.
Sandjaja Kosasih
Kata Anthony Dio Martin, ada "emotional unmeet" antara provider dan pelanggan. Disini letak dispute utamanya.Mengulang yg di atas, buang waktu dan dana untuk mengurus pelanggan seperti itu. Lebih baik mengurus pelanggan lainnya.
Analisa yg akurat? Tidak ada satupun model analisa yg bisa dipakai untuk menilai perilaku ber-internet orang Indonesia.
Saya pakai 2 HALO dan 1 simPATI untuk Flash. Jalurnya beda kok. Meski sebagian orang Tsel (marketing) berasumsi semua sama jalurnya. Ketika HALO ngadat dipakai utk Flash, simPATI masih lancar pada saat2 problem di seputarn Lebaran tempo hari.... Read more
Rasanya sih di teknis Tsel sudah all out, makanya saya kalau mau protes mengamati dulu sekarang. Awalnya sih gak pake pengamatan langsung nanya.
Di Indonesia ini operator mana sih yg sering digugat? Ya Tsel. Aturan paling ketat utk para kontraktronya ya Tsel. Yg nembus sampai ke pedalaman ya Tsel.
Ibaratnya sudah repot ngurus segala sesuatu sampai yang sifatnya sosial masih repot menangkis gugatan.
Analisa yg akurat? Tidak ada satupun model analisa yg bisa dipakai untuk menilai perilaku ber-internet orang Indonesia.
Saya pakai 2 HALO dan 1 simPATI untuk Flash. Jalurnya beda kok. Meski sebagian orang Tsel (marketing) berasumsi semua sama jalurnya. Ketika HALO ngadat dipakai utk Flash, simPATI masih lancar pada saat2 problem di seputarn Lebaran tempo hari.... Read more
Rasanya sih di teknis Tsel sudah all out, makanya saya kalau mau protes mengamati dulu sekarang. Awalnya sih gak pake pengamatan langsung nanya.
Di Indonesia ini operator mana sih yg sering digugat? Ya Tsel. Aturan paling ketat utk para kontraktronya ya Tsel. Yg nembus sampai ke pedalaman ya Tsel.
Ibaratnya sudah repot ngurus segala sesuatu sampai yang sifatnya sosial masih repot menangkis gugatan.
Anton Rahmadi
Ya itu dia.
Studi modelling pengguna internet sudah saatnya diangkat sebagai sebuah topik disertasi. Ini studi soal prilaku pelanggan juga bukan?
10% effort cukup menangani yang 90%,
90% effort diperlukan untuk sempurna.
Jadi mulailah kita traceback para abusers itu. Kebiasaan kita yang terlalu permisif lebih dari negara liberal sekalipun. Asal sudah bayar, bebas apa saja... huh, capeknya.
Studi modelling pengguna internet sudah saatnya diangkat sebagai sebuah topik disertasi. Ini studi soal prilaku pelanggan juga bukan?
10% effort cukup menangani yang 90%,
90% effort diperlukan untuk sempurna.
Jadi mulailah kita traceback para abusers itu. Kebiasaan kita yang terlalu permisif lebih dari negara liberal sekalipun. Asal sudah bayar, bebas apa saja... huh, capeknya.
Sandjaja Kosasih
Loh baru tahu kalau Indonesia lebih liberal dibanding negara liberal (AS sekalipun) :)
Tsel paling sering digugat karena mungkin paling "merah putih" ya?
Anton Rahmadi
Tsel digugat karena dia yang diharapkan paling bagus diantara yang lainnya :D
Tsel paling sering digugat karena mungkin paling "merah putih" ya?
Anton Rahmadi
Tsel digugat karena dia yang diharapkan paling bagus diantara yang lainnya :D
64 kbps after 512MB fair usage is not bad kalau benar2 segitu. Itukan sama dengan misalnya sekitar 7 kBps download + 1 kBps upload (asynchronous).
Tapi 64 kbps dengan embel2 3g up to 256 kbps itu yang menimbulkan harapan berlebihan. Walaupun, toh, hasil test saya di bulan Juni bisa peak ke 440an kbps.
Intinya, kalau janji upto 256 kbps, pelanggan ya harus dapat segitu atau kurang lebih segitu. Kalau janjinya 64 kbps, ya harus segitu pula angkanya.





Sandjaja Kosasih
Dirut Telkomsel digugat gara-gara penurunan bandwith? ono-ono wae...
Masih ada problem di 'fair usage' yg semena2 diturunkan. Sebagai gambaran, 240rb di Aussie dapat quota 2+1 gb. Mereka cuma punya satu sistem: volume based.
Technically, b/w limiter Tsel saya gak tahu, tapi jelas berbasis software karenanya bisa ditembus asal tahu caranya. Misal: DNS caching, dsb.
Speed dah kenceng lagi karena banyak pelanggan pindah kelain hati, pak.
Kasusnya sama, dulu Broom byk diminati karena murah, cepat. Semua lari kesana. Begitu Tsel murah, reasonable, cepat, jangkauan luas, pelanggan balik serbu Tsel.... Read more
Pasarnya volatil Pak. Apalagi pengguna kita 11x lipat pengguna Aussie. Kebayang ribetnya (secara teknis).
Sarannya sih memang desentralisasi bandwidth. Tiap pulau punya jalur sendiri selain ring backbone.
Nantilah kita kasih proposal solusinya ke Tsel.
Anton RahmadiHarusnya bisa. Anomali mudah terlacak dengan algoritma khusus. let see, pemakaian bulanan berdasarkan ccid, bisa di trackback ke 3bln trend, 2bln trend, 2mg trend, dsb.
Wong di PON aja bisa ketahuan realtime kok. Segitu terpencarnya lokasi, banyaknya screen dan koneksi.
Anton RahmadiSecara damai, dipanggil aja Pak.
Diminta resign jadi pelanggan. Beres bukan? Toxic customers memang ada. Disini peranan dispute management, sesuatu yg sangat langka di negara kita.
Sebabnya Tsel menurunkan 'fair usage' sepihak tanpa persetujuan existing customers.
Kedua, Tsel tidak mampu melayani pelanggan dengan QoS yang layak.
Masalah yang digugat adalah policy Tsel akibat salah intrepetasi survey pelanggan.
Contoh: Tsel menganggap kuota rata2 pelanggan adalah 500mb/pelanggan. Asumsinya apa? Pada QoS b/w berapa? Kalau pada 5 kBps, tentu sangat dimaklum, tapi pada 32 kBps, rasanya tak mungkin.... Read more
Kalau toxic customers, itu masalah berbeda. technical glitches semacam ini, cuman escape aja. Admin2 mereka lebih capable untuk menghandle anomali, dibanding marketingnya.
Saya pernah lihat banyak yang tunneling via Tsel dan limiternya, counternya gak jalan. Something very wrong with the limiter.
Saya adalah pelanggan yg di sisi lain juga punya pelanggan.
Jadi kengototan pelanggan yg merasa dirugikan adalah biasa. Biasanya pelanggan yg ngotot adalah pelanggan yg mestinya beli bandwith lebih tapi tidak melakukannya dan kemudian merengek ketika celah2 untuk mengambil lebih diperketat.
QoS yg hancur juga dikarenakan abuse dari pelanggan yg lain, makanya saya bilang kenapa tidak menggugat pelanggan yg berperilaku buruk seperti itu?